Hari-hari manusia
memang tak pernah lepas dari setumpuk rutinitas yang dijalankan. Hampir
lebih kurang 24 jam dalam sehari manusia disbukan dengan berbagai tugas dan
target yang harus mereka selesaikan. Tak jarang rutinitas full tersebut
menimbulkan gejala stress, suntuk, depresi, dan gangguan kejiwaan lain yang tak
dapat dihindari. Gangguan jiwa tersebut dalam beraktivitas merupakan suatu
kewajaran, karena hakikat sifat alami manusia adalah mudah mengalami rasa
bosan. Namun akan menjadi tidak wajar jika penyakit jiwa tersebut berlangsung
lama menjadi momok dan penyakit bagi diri sendiri.
Islam
sebagai ajaran yang komprehensif mengatur kehidupan umatnya secara komprehensif
dan seimbang dari aspek rutinitas ibadah maupun rutinitas muamalah. Rutinitas
ibadah yang kita lakukan seperti sholat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya
dapat dikategorikan sebagai rutinitas berdimensi ukhrowi karena erat kaitannya
dengan konektivitas dengan Allah SWT. Adapun rutinitas muamalah yang kita
lakukan seperti, bekerja, transaksi jual-beli, bercengkrama, dan lain-lainnya
adalah rutinitas yang memiliki dimensi kedunian, karena berhubungan kangsung
dengan sesama manusia. Kedua aktivitas yang kita jalani tersebut haruslah
seimbang satu sama lain tidak condong berat sebelah. Artinya kita sebagai
umat Islam tidak boleh hanya beribadah saja di mesjid sehingga meninggalkan
hubungan interaksi dengan sesama muslim lainnya. Begitu pula sebliknya, umat
muslim juga dilarang terlalu sibuk dengan urusan keduniannya, sehingga lupa
akan Allah dan kehidupan akhiratnya. Pentingnya keseimbangan ini tersirat di
dalam firman Allah surah Al-Qosos ayat 77:
وَابْتَغِ
فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ
الدُّنْيَا
“Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan
Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“. (QS.
Al-Qosos: 77).
Keseimbangan
antara dua rutinitas tersebut begitu penting untuk diperhatikan oleh kaum
muslimin, sebab apabila keduanya tidak seimbang maka akan menimbulkan
permasalahan salah satunya adalah penyakit jiwa.
Adalah
ibadah sholat, selaku rutinitas ukhrowi yang ingin saya kedepankan dan
korelasikan dengan rutinitas duniawi dalam tulisan ini. Kenapa Sholat? karena
sholat adalah amalan ukhrowi yang sering kali dilalaikan oleh Kaum Muslimin.
Fakta ini tidak bisa kita pungkiri karena banyak kaum muslimin yang tersibukan
dan terlena dengan rutinitas duniawai yang mereka lakukan. Kita bisa
memperhatikan bagaimana kondisi shaf sholat di mesjid-mesjid ketika datang
waktu sholat, apakah penuh sampai shaf belakang ketika di hari jum'at atau hanya
terisi beberapa shaf saja, bahkan kurang dari satu shaf.
Lalu
kenapa harus sholat? lantas apa kaitannya dengan penyakit jiwa?
Jika
kita coba renungkan, bahwa Allah itu begitu Maha Agung, dalam setiap perintah
yang Dia titahkan kepada hambanya atau segala sesuatu yang IA ciptakan, maka
ada hikmah yang terkandung di baliknya. Tiada yang sia-sia dibalik semua apa
yang Allah ciptakan atau yang Dia perintahkan.
Aktivitas
sholat mungkin bagi sebagian kita hanya dianggap rutinitas yang biasa-biasa
saja, datang waktu azan, kemudian iqomah lalu menunaikannya baik itu berjama'ah
atau sendirian. Seusai sholat kita melanjutkan aktifitas kembali. Begitulah
rutinitas sholat yang selalu kita kerjakan.
Tapi
tidakkah kita menyadari bahwa dari aktivitas sholat 5 waktu yang Allah
perintahkab tersebut, mulai dari subuh hingga waktu isya adalah sebagai bentuk
merefreshkan kembali dan mengistirahatkan sejenak fisik, jiwa, pikiran,
dan hati kita dari setumpuk aktivitas sehari-hari.
Tubuh
yang kita paksakan untuk bekerja ini tentunya akan merasa letih dan lesuh,
sehingga ia membutuhkan istirahat. Dan sholat adalah sarana yang Allah
perintahkan untuk merefreshkan kembali tubuh dan jiwa kita.
Diawali
dengan perintah sholat subuh. Setelah kita terlelap beberap jam untuk
beristirahat, Allah bangunkan dan perintahkan kita untuk menunaikan sholat
subuh supaya tubuh yang telah lama terlelap ini segar kembali sehingga
dapat melakukan rutinitas di pagi hari dengan maksimal.
Setelah
lebih kurang 5 jam bekerja di waktu pagi, Allah menciptakan waktu siang dengan
perintah sholat zuhur, untuk apa?
Untuk
merefreshkan kembali pikiran dan badan kita yang mungkin terasa lelah ketika
beraktivitas di pagi hari. Begitu pula seterusnya dari waktu ashar, maghrib dan
isya, semuanya Allah ciptakan supaya kita dapat merefreshkan kembali pikiran,
jiwa dan tubuh kita dari berbagai macam rutinitas harian.
Suasana
apakah yang sahabat rasakan setelah sholat? apakah ketenangan? pikiran kembali
fresh?energi positif mulai terbarukan kembali? dan efek-efek Positif lainnya?
Jawabannya bisa sahabat jawab sendiri dan rasakan.
Ketenangan
yang kita dapatkan seusai sholat adalah satu dari sekian nikmat yang Allah
janjikan kepada kita melalui sholat. Sebagaimana janji Allah dalam
surah Ar-ra'du ayat 28:
الَّذِينَ
آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs.
ar-Ra’du: 28).
(Barak Utsman, 7 Maret 2019)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar