Minggu, 09 Januari 2022

 Denda Berlipat *5 angsuran. Patutkah???



Selamat malam pembaca semua. Ceritanya malam ini mencoba memaksakan kembali diri untuk menulis apapun itu yang terlintas dalam pikiran, hehehe.

Pada tulisan ini saya mencoba untuk mengkritisi praktek perjanjian (dalam hal ini perjanjian kredit) yang saya temui di lapangan. Menurut hemat saya praktek tersebut sangat tidak patut, bahkan mungkin ngga masuk akal. Kenapa ngga masuk akal? 

Panjanglah ceritanya, bahka bisa merempet pada pembahasan Klausula Baku, Asas Keseimbangan, perlindungan konsumen, dll. heheh. Kalau boleh saya bercerita sedikit, saya mengalami kegundahan dan diri tidak terima akan praktek yang tidak masuk akal tsb ketika On Job Training di Cabang Muntok dulu.  (ok kembali ke laptop)

Saya mau jelasin dulu nih (oiya ini hanya bersifat sharing ilmu ya bukan menggurui, hehehe). Ketika kita membuat suatu perjanjian, ntah itu perjanjian jual beli, sewa menyewa, hutang-piutang, dll. Maka kita perlu memperhatikan atau kalau lebih bagusnya sih kita harus tau asas-asas perjanjian tersebut. 

Mengenai asas itu apa sih? mungkin secara sederhana nya kita dapat mengartikan bahwa asas itu adalah dasar. jadi kalau kita berbicara "asas perjanjian" maka sama dengan "dasar perjanjian". Kalau tidak ada asas/dasar bagaimana dong? ya sama seperti kita bangun rumah, kalau ngga ada pondasi apa rumah akan terbentuk?? tentu tidak. Begitu pula dengan perjanjian.

Asas-asas yang lazim dalam Hukum Perjanjian itu diantaranya :

1. Asas Kebebasan Berkontrak

2. Asas Konsensualisme

3. Asas Pacta Sun Sarvanda

4. Asas Iktikad Baik

5. Asas Kepribadian

Menganai asas-asas tersebut diatas saya tidak akan menjabarkannya dalam tulisan ini, teman-teman bisa membaca nya di buku, internet atau bahan-bahan bacaan lainya :).

Saya ingin menitik beratkan pada asas yang tidak ada disebutkan diatas (karena asas ini memang tidak selazim lima asas diatas) yaitu asas kepatutan.

Asas kepatutan ini diatur di dalam Pasal 1339 KUH Perdata yang bunyinya :

"Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.”

Patut itu apa?? patut itu meliputi semua yang dapat dirasakan dan dapat diterima nalar dengan baik, wajar dan adil.

Dapat diterima dengan nalar dan rasa keadilan yang menjadi perhatian kita bersama. 

Wajar, adil. Lalu kaitannya patut dengan Perjanjian Kredit??

Ini berawal dari niatan debitur untuk melunasi pinjamannya sebelum jatuh tempo yang disepakati dalam Perjanjian Kredit. Semisal jatuh tempo kredit 5 tahun kedepan, tapi memasuki tahun ketiga debitur mau melunasi pinjamannya. Namun mayoritas debitur urung melunasi pinjamannya yang belum jatuh tempo tersbut. Karena tersandung Penalti yang tidak masuk akal tersebut.

Lantas kita harus berbuat apa terkait praktek yang tidak patur tersebut?siapa yang berhak menilai suatu perbuatan tersebut patut atau tidak? Prof Subekti dalam bukunya Hukum Perjanjian mengatakan bahwa bahwa para hakim diberi kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan suatu perjanjian, supaya tidak melanggar kepatutan atau keadilan. Hal ini berarti, hakim berkuasa untuk menyimpang dari isi perjanjian menurut hurufnya, manakala pelaksanaan menurut huruf itu akan bertentangan dengan iktikad baik. 

Kedepannya saya berharap kebijakan penalti tersebut dapat menjadi perhatian stake holder kedepannya. 

 

 

 

 

 

 

 

 


Rabu, 06 Maret 2019

Refleksi Sholat

Hari-hari manusia memang tak pernah lepas dari setumpuk rutinitas yang dijalankan. Hampir lebih kurang 24 jam dalam sehari manusia disbukan dengan berbagai tugas dan target yang harus mereka selesaikan. Tak jarang rutinitas full tersebut menimbulkan gejala stress, suntuk, depresi, dan gangguan kejiwaan lain yang tak dapat dihindari. Gangguan jiwa tersebut dalam beraktivitas merupakan suatu kewajaran, karena hakikat sifat alami manusia adalah mudah mengalami rasa bosan. Namun akan menjadi tidak wajar jika penyakit jiwa tersebut berlangsung lama menjadi momok dan penyakit bagi diri sendiri.


Islam sebagai ajaran yang komprehensif mengatur kehidupan umatnya secara komprehensif dan seimbang dari aspek rutinitas ibadah maupun rutinitas muamalah. Rutinitas ibadah yang kita lakukan seperti sholat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya dapat dikategorikan sebagai rutinitas berdimensi ukhrowi karena erat kaitannya dengan konektivitas dengan Allah SWT. Adapun rutinitas muamalah yang kita lakukan seperti, bekerja, transaksi jual-beli, bercengkrama, dan lain-lainnya adalah rutinitas yang memiliki dimensi kedunian, karena berhubungan kangsung dengan sesama manusia. Kedua aktivitas yang kita jalani tersebut haruslah seimbang satu sama lain tidak condong berat sebelah.  Artinya kita sebagai umat Islam tidak boleh hanya beribadah saja di mesjid sehingga meninggalkan hubungan interaksi dengan sesama muslim lainnya. Begitu pula sebliknya, umat muslim juga dilarang terlalu sibuk dengan urusan keduniannya, sehingga lupa akan Allah dan kehidupan akhiratnya. Pentingnya keseimbangan ini tersirat di dalam firman Allah surah  Al-Qosos ayat 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“. (QS. Al-Qosos: 77).


Keseimbangan antara dua rutinitas tersebut begitu penting untuk diperhatikan oleh kaum muslimin, sebab apabila keduanya tidak seimbang maka akan menimbulkan permasalahan salah satunya adalah penyakit jiwa. 

Adalah ibadah sholat, selaku rutinitas ukhrowi yang ingin saya kedepankan dan korelasikan dengan rutinitas duniawi dalam tulisan ini. Kenapa Sholat? karena sholat adalah amalan ukhrowi yang sering kali dilalaikan oleh Kaum Muslimin. Fakta ini tidak bisa kita pungkiri karena banyak kaum muslimin yang tersibukan dan terlena dengan rutinitas duniawai yang mereka lakukan. Kita bisa memperhatikan bagaimana kondisi shaf sholat di mesjid-mesjid ketika datang waktu sholat, apakah penuh sampai shaf belakang ketika di hari jum'at atau hanya terisi beberapa shaf saja, bahkan kurang dari satu shaf.

Lalu kenapa harus sholat? lantas apa kaitannya dengan penyakit jiwa?

Jika kita coba renungkan, bahwa Allah itu begitu Maha Agung, dalam setiap perintah yang Dia titahkan kepada hambanya atau segala sesuatu yang IA ciptakan, maka ada hikmah yang terkandung di baliknya. Tiada yang sia-sia dibalik semua apa yang Allah ciptakan atau yang Dia perintahkan. 

Aktivitas sholat mungkin bagi sebagian kita hanya dianggap rutinitas yang biasa-biasa saja, datang waktu azan, kemudian iqomah lalu menunaikannya baik itu berjama'ah atau sendirian. Seusai sholat kita melanjutkan aktifitas kembali. Begitulah rutinitas sholat yang selalu kita kerjakan.

Tapi tidakkah kita menyadari bahwa dari aktivitas sholat 5 waktu yang Allah perintahkab tersebut, mulai dari subuh hingga waktu isya adalah sebagai bentuk merefreshkan kembali dan mengistirahatkan sejenak  fisik, jiwa, pikiran, dan hati kita dari setumpuk aktivitas sehari-hari.

Tubuh yang kita paksakan untuk bekerja ini tentunya akan merasa letih dan lesuh, sehingga ia membutuhkan istirahat. Dan sholat adalah sarana yang Allah perintahkan untuk merefreshkan kembali tubuh dan jiwa kita.

Diawali dengan perintah sholat subuh. Setelah kita terlelap beberap jam untuk beristirahat, Allah bangunkan dan perintahkan kita untuk menunaikan sholat subuh supaya tubuh yang telah lama terlelap ini segar kembali  sehingga dapat melakukan rutinitas di pagi hari dengan maksimal. 

Setelah lebih kurang 5 jam bekerja di waktu pagi, Allah menciptakan waktu siang dengan perintah sholat zuhur, untuk apa? 

Untuk merefreshkan kembali pikiran dan badan kita yang mungkin terasa lelah ketika beraktivitas di pagi hari. Begitu pula seterusnya dari waktu ashar, maghrib dan isya, semuanya Allah ciptakan supaya kita dapat merefreshkan kembali pikiran, jiwa dan tubuh kita dari berbagai macam rutinitas harian.

Suasana apakah yang sahabat rasakan setelah sholat? apakah ketenangan? pikiran kembali fresh?energi positif mulai terbarukan kembali? dan efek-efek Positif lainnya? Jawabannya bisa sahabat jawab sendiri dan rasakan. 

Ketenangan yang kita dapatkan seusai sholat adalah satu dari sekian nikmat yang Allah janjikan  kepada kita melalui sholat.  Sebagaimana janji Allah dalam surah Ar-ra'du ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Qs. ar-Ra’du: 28).

(Barak Utsman, 7 Maret 2019)







Sabtu, 29 Desember 2018

UIN Mengabdi

Pada kesempatan KKM tahun ini kelompok 1 dan 136 diamanahi untuk melakukan pengabdian di Kelurahan Losari Kecamatan Singosari Kab. Malang. Dari segi geografis Keluarahan Losari terletak dijalur yang menghubungkan  kota malang dan surabaya sehingga kelurahan ini dapat dikategorikan semi kota karena dekatnya dengan akses ke perkotaan. Untuk mencapai ke kelurahan Losari dapat ditempuh setengah jam perjalanan dari Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sehingga hal ini menjadi nilai positif tersendiri bagi kelompok 1 dan 136.

Sebelum keberangkatan KKM, ustadz makki  hasan selaku DPL memberikan informasi bahwa tahun ini  merupakan kali pertama UIN mengirim mahasiwanya untuk melakukan pengabdian di kelurahan Losari. Sehingga misi utama yang diemban oleh kelompok 1 dan 136 adalah penanaman image yang baik ditengah-tengah masyarakat mengenai kepribadian mahasiwa UIN Malang. Ustadz makki menjelaskan lebih lanjut bahwa banyak hal yang dapat dilakukan oleh Mahasiswa untuk menunjukan image yang baik ditengah masyarakat, hal yang utamanya adalah menunjukan akhlak pergaulan yang baik dan perilaku sopan santun dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

Wujud nyata lainnya dari penanman image yang baik di masyarakat dapat dilakukan oleh Mahasiswa dengan  mengkuti berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar seperti menunaikan sholat wajib berjama’ah lima waktu di masjid,  mengikuti pengajian-pengajian masyarakat, mengajar di TPQ atau TPA, ikut serta dalam kegiatan gotong royong, peka terhadap permasalahan yang dihadapi oleh kelurahan dan menemukan solusimnya dan kegiatan lainnya.





Selasa, 19 Juni 2018

Air Yang Mengalir


Membagikan cerita tentang profil salah satu Tokoh Muslim indonesia yaitu Prof Dr Qomarudin Hidayat, beliau merupkan  seorang ex-rektor di salah satu kampus Islam yaitu UIN Syarif Hidayatullah.

Terlepas dari sebagian pendapat miring tentang beliau, saya mencoba mengambil sisi baik dari perjalanan hidup beliau yang bisa kita jadikan bahan pelajaran.

Dari cerita singkat tentang hidup beliau yang saya baca melalui wikipedia (saya sudah memmbaca beberapa tahun yang silam dan saudara mungkin bisa baca lagi) dikisahkan bahwa beliau sedari kecil telah di tinggal oleh ibunya dan diasuh oleh neneknya yang menjadi sumber inspirasi beliau dalam menjalani hidup. Disamping asuhan nenek, beliau juga diasuh dibawah didikan KH Hamam Ja'far, seorang tokoh agama yang mengajarkan beliau ilimu agama, hikmah dan kebijaksanaan di pesantren.

Ingatan tajam saya dari kisah Prof Qomarudin adalah pesan KH Hamam kepada beliau (sampai saat ini pun pesan yai Hamam masih terekam kuat dalam benak saya). Pesan yai Hamam yaitu

"Hidup itu harus seperti air, jika ia mengalir maka ia akan bersih dan jika ia mengenang maka akan kotor"

Saya sempat memposting pesan Yai Hamam di FB beberpa tahun silam, dan mendapat tanggapan dari guru saya (buya Zulhamdi), beliau mengatakan bahwa pesan tersebut merupakan nasehat dari Imam Asy-Syafi'i.

Pesan tersebut sangatlah pendek, namun penuh makna bagi saya pribadi bahwa kita harus meluruskan pandangan ke depan untuk menghadapi masa depan. Berbagai kegagalan yang kita hadapi dalam merangkai masa depan adalah ujian dan rintangan yang harus dihadapi dengan penuh semangat dan pantang menyerah, karena tiada mungkin orang hidup dan orang yang suskes tanpa menhgadapi rintangan.

Yang menjadi permsalahan bagi saya atau mungkin sebagian kita adalah tatkala dihadapi satu rintagan saja lalu gagal mengahadapinya, semerta-merta jiwa langsung terhentak dan takut untuk mengahadapi rintangan yang lain, dan pada akhirnya kehilangan semangat untuk melanjutkan perjuangan.

Kalau kita mengulas balik kisah perjuangan nabi dan para sahabat untuk menyebarkan islam, tidakkah kita melihat bagaimana nabi tatkala berdakwah ke Thaif mengajak penduduknya memeluk islam. Tapi apa yang terjadi? Bukanlah perjuangan beliau tersebut mendapat penolakan yang keji dari penduduknya? Namun apakah hal tersebut menyulutkan jiwa nabi untuk berdakwah? tentunya tidak.
Nabi mendo'akan mereka supaya dari tulang sulbi mereka lahirlah para generasi yang memeluk islam. Nabi tetap melanjutkan estapet dakwah hingga pada akhirnya Allah mempermudah dakwah beliau melalui masuk Islamnya penduduk Yastrib.

Kita melihat kembali bagaimana kisah Thomas Alva Edison, yang selalu gagal menciptkan lampu hingga pada akhirya di percobaab yang ke-999 akhirnya beliau dapat menciptkan lampu.

Masih banyak kisah-kisah para pejuang masa depan yang kita jadikan pelajaran.

Semoga pesan Yai haman sebelumnya bahwa kita harus bagaikan air yamg mengalir dalam artian tetap melanjurkan perjuangan kita masing-masing dalam mengarungi kehidupan dan menggapai masa depan. Jangan menggenang yaitu jangan hanya terfokus pada kegagalan yang telah berlalu dan meratapinya sehingga timbullah perasaan khawatir untuk mencoba tantangan baru kembali. Tapi harus tetap mengalir sampai ke lautan yaitu tetap terus berusaha-usaha dan usaha hingga Allah memberikan pertolongan Nya untuk kita menggapai Apa yang kita inginkan.

Selamat Berjuang.

(Sungai Rumbai 20 Juni 2018)


Senin, 18 Juni 2018

Terombang Ambing

Malam ini baca-baca berita di internet (TribunNews) ada satu topik yang sangat menarik bagi diri saya pribadi. Berita tersebut bisa saudara baca di  link http://www.tribunnews.com/internasional/2018/06/18/merkel-punya-dua-pekan-buat-selamatkan-pemerintahan-jerman

Mengulas sedikit berita tersebut menceritakan tentang pergolakan yang terjadi ditubuh Pemerintahan Jerman mengenai nasib para imigran korban dari perang yang ada di Timur Tengah. Kesimpulan yang dapat saya tarik dari perselisihan yang terjadi adalah bahwa mayoritas Pejabat Pemerintahan Jerman menolak untuk menerima para imigran masuk ke negara mereka. Bahkan ada seruan untuk mengusir para imigran yang telah di tampung kel luar dari Jerman.

Melihat dan mendengarkan kebijakan tersebut tentunya ada perasaan sedih, sedih tersebut muncul karena yang mengalami nya adalah saudara saya dan saudara kita sesama muslim yang sedang di timpa perang tak berkesudahan.

Sedari awal dari beberapa berita internasional tentang imigrasi para korban perang yang saya baca, dari sekian banyak negara Uni Eropa (selain Turki) saya sangat mengapresiasi dan berdecak kagum pada Jerman yang mau dijadikan sebagai negara kunjungan para imigran.

Decak kagum pada jerman tentu sangat saya hargai tatkala banyak juga diantara negara-negara Uni Eropa yang menolak para imigran seperti Perancis, Italia, Polandia, Hungaria dll. Mereka semua menolak mentah-mentah para imigran.

Melihat gelombang besar-besaran imigran Muslim ke negara Eropa saya mengingat akan Hadist nabi yang bercerita tentang kaum Muslimin bagaikan buih di lautan.

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Tak bisa melihat dan membanyangkan nasib kaum Muslimin yang terkatung-terkatung di negara orang lain tak ada kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kualitas hidup yang baik. Semoga musibah yang dihadapi oleh saudara kita tersebut cepat berakhir dan kembali pulih seperti sediakalanya.

Tentunya melihat fenomena yang dialami oleh mereka. Terbesit dari pikiran ini untuk saatnya kaum muslimin harus bersatu dibawah satu komando kepemimpinan. Karena diantara faktor penyebab ditimpanya musibah adalah ketidak adannya persatuan dan kesatuan di tubuh kaum muslimin sendiri.

Kita lihat sekarang semua kaum muslimin terbecah belah menjadi beberapa golongan, pemerintahan dan kekuasaan. Perpecahan tersebut tentunya menjadi peluang bagi musuh untuk mengadu domba dan mencabik-cabik kaum Muslimin sendiri.

Dengan terwujudnya satu kepemimpinan dan satu visi bersama semoga Allah mencurahkan kembali kedamaian dan kesejahteraan bagi Kaum Muslimin.

(Sungai Rumbai/ 18 Juni 2018)

Minggu, 17 Juni 2018

Amal Yang Kecil

Jangan meremehkan amal baik sekecil apapun, karena kita tidak tahu amal kecil  tersebutlah yang akan menjadi wasilah kita ke Sorga nya Allah.

Saya teringat akan kisah hadist yang masyhur  didengar dari para da'i bahwa suatu hari ketika para sahabat berkumpul di rumah Rasulullah, tiba-tiba Rasulullah mengatakan "Calon penghuni surga akan datang"

Seketika mendengarkan perkataan Rasulullah tersebut, para sahabat terkejut dan tentunya penasaran dengan orang yang di katakan oleh Rasulullah.

Siapa yang tak ingin masuk surga? tentunya semua para sahabat dan kita semua generasi terakhir ini sangat mengaharapkannya, apalagi dijanjikan oleh Rasulullah sendiri. Oleh karena itu mari kita selidiki apa sih amal yang dilakukan calon penghuni tersebut sehingga dia memjadi calon penghuni surga?

Untuk mengetahui jawabannya, maka salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah meminta izin kepada sahabat tersebut untuk menginap di rumahnya.

Sudah tiga hari Abdullah menginap di rumah sahabat penghuni surga, tapi tak ada satupun amal ibadah spesial dari dirinya, lantas amal apa yang menjadikannya disabdakan oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga?

Tak lain tak bukan amalnya hanya memaafkan kesalahan yang telah diperbuat orang kepadanya.

Perselisihan antara kita dengan saudara, atau dengan teman, atau dengan kerabat adalah hal yang wajar karena mungkin berbeda pemahaman, atau berselisih pendapat atau mugkin tak senang dengan kelakuan orang terhadap diri kita.

Tapi bukankah jiwa pemaaf yaitu orang yang meminta maaf terlebih dahulu lebih utama dari orang yang kedua, walau itu bagi sebagian kita termasuk saya sendiri berat untuk dilakukan.

Tapi semoga kita bisa saling memafkan satu sama lain dan menghilangkan benih-benih kebencian diantara kita.

Maafkan saya kalau ada salah.

(Sungai Rumbai 18 juni 2018)

Sabtu, 16 Juni 2018

Cengkraman Asing

Ntah mengapa pagi hari ini terbesit di pikiran tentang jiwa nasionalis, ujung-ujungnya saya mengingat salah satu nama ex-perdana menteri Iran (kala itu iran masih berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh Syah Rizal Pahlevi) yaitu Mohammad Shadiq, bagi saya beliau lebih dari sekedar tokoh nasionalis di negaranya yang tak hanya manis dimulut saja seperti kebanyakan orang-orang di negeri ini, hanya bisa berkata "saya Nasionalis lo" "saya Pancasila" " saya Indonesia"

Omong kosong semua perkataan tersebut bagi saya, Berkata "Saya Pancasila" tapi melukai sendiri semboyaan dibawahnya. bla, bla,,

Kembali lagi ke cerita Muhammad Shadiq. Kenasionalismean Shadiq terlihat ketika beliau mengeluarkan kebijakan untuk menasionalisasikan seluruh aset pertambangan minyak dan gas alam yang kala itu dikuasai oleh Asing.

Kita perlu ketahui, bahwa Iran dimasa rezim Syah Rizal Pahlevi sangat memiliki ketergantungan akut dengan cengkraman asing, alhasil kemiskinan sangat merajalela di Iran tatkala itu. Disamping ketegantungan yang kuat akan asing, Syah sendiri merupakan seorang pemimpin negara yang bermental zalim kepada rakyatnya, memperkaya diri sendiri, dan penuh dengan kehidupan glamor. Faktor ini lah yang menjadi faktor meletusnya revolusi Iran kelak yang dipimpin oleh Ayatullah Khomenei.

Niat baik shadeq untuk menjalankan kebijakannya untuk menasionalisasikan aset negara mendapat tantangan dari pihak asing dan tentunya juga dari Syah. Dan itu merupakan cobaan tersendiri yang harus di hadapi oleh jiwa-jiwa yang konsisten akan prinsipnya. Sehingga secara rela shadiq harus di gulingkan dari jabatan nya sebagai perdana menteri dengan penuh konspirasi yang busuk dari pihak asing dan Syah sendiri.

Saya merenungkan, sepertinya apa yang terjadi atau nasib yang dialami oleh shadiq hampir sama degan yang dialami oleh sosok penyambung lidah rakyat yaitu bung karno. Bung Karno memliliki prinsip tak mau kekayaan negara kita di kelola oleh asing, tapi dikelola oleh putra bangsa sendiri. Maka dari pada itu lah Bung Karno mengirim para Putra terbaik bangsa saat itu untuk menuntut ilmu ke luar negeri kala itu.

Tatkala Bung Karno lengser digantikan oleh jendral. Maka  dimulailah babak cengkraman kuku asing menancapkan kukunya nan tajam di Indonesia. Dan sampai saat ini ketergantungan indonesia pada Asing masih sangat kuat dan sulit untuk di lepaskan.

Bersambung....

Jumat, 15 Juni 2018

Anak Benua India


Begitu banyak tragedi perpecahan bangsa yang terjadi di sekeliling kita. Salah satu nya yang terpecah adalah adalah negara yang ada di Asia Selatan. Kita ketahui di Asia Selatan terdapat 3 negara yang sangat kita kenal yaitu India, Pakistan dan Bangladesh.

Ketika dibawah jajahan bangsa inggris negara tersebut berada pada satu kesatuan wilayah yang dinamai dengan India. Namun berselangnya waktu terpecahlah  menjadi dua wilayah yaitu India dan Pakistan.

Perpecahan antara india dan pakistan dilatar belakangi oleh agama, India yang berpaham Hindu dan Pakistan yang berpaham Islam. Dan tahukan saudara semua, sampai saat ini dua negara tersebut tak kunjung berdamai satu sama lain. Saling menebar kebencian, permusuhan dan perang sesama mereka.

Tak berhenti disitu saja, setelah pecahnya India dan Pakistan. Perpecahan terjadi kembali antara Pakistan dan Bangladesh karena faktor perbedaan suku semata. Pakistan yang dihuni oleh suku Pastun, Punjab, dll, sedangkan bangladesh dihuni oleh suku Bengali.

Begitu mirisnya melihat perpecahan yang terjadi pada 3 negara tersebut. Karena faktor perbedaan agama dan suku mereka terpecah. Tidak kah kita pahami bersama perbedaan diantara kita baik itu dari segi agama, suku, bahasa dll, adalah anugrah yang mestinya kita syukuri bersama.

Apalah rasanya bila hidup ini hanya warna putih saja yang kita lihat, tentu mata akan bosan ujungnya. Apalah rasanya hanya rasa manis yang bisa dikecap oleh lidah kita tentunya rasa hambar yang kita rasakan. 

Kita berbeda tentu disana ada peluang untuk saling berselisih, tapi perselisihan tentunya adalah ujian untuk mendewasakan diri dan pola pikir agar bisa menerima perbedaan dan ragam tersebut. Tidak perpecahan yang kita harapkan.

Semoga bangsa kita ini yang keberagaman nya melebihi 3 negara tersebut, dengan beragam bahasa, suku dan agama, tidak tercerai berai satu sama lain. 

Save Indonesia!!
  

Menciderai Bhineka Tunggal Ika

Beberapa bulan kedepan rakyat Indonesia akan mengadakan perhelatan pesta demokrasi yang diawali dengan pemilihan anggota legislatif, pejabat pemimpin daerah lalu diakhiri dengan pemilihan presiden.

Seperti nya politik ditahun ini diperkirakan sangat panas, masing-masing dari para kubu pendukung tampak saling serang-menyerang tak berkesudahan, sehingga sangat disayangkan persatuan dan kesatuan yang seharusnya diharapkan dan di pupuk bersama sulit untuk diwujudkan.
Tentunya perseteruan ini secara tak sengajai mencederai semboyaan keberagaman kita bangsa Indonesia, "Bhineka Tunggal Ika" (berbeda-beda tapi tetap satu jua)

Sepertinya keberagaman kita sedang di uji oleh Tuhan, apakah kita tetap konsisten menerapkan dan menjalankan semboyaan yang telah kita sepakati bersama tersebut atau mungkin menggapnya hanya sebatas formalitas saja yang terpajang bagai hiasan tak ada artinya.

Kita semua tentunya berharap perpecahan yang terjadi diantara kita saat ini tentunya tidak diingin berlarut-larut tanpa kesudahan, sehingga membuat kita saling membenci dan mencurigai satu sama lain. Tak ada rasa ketentraman, tak ada rasa saling menghormati dan tak ada rasa saling bertoleransi diantara kita.

Tanpa kita sadari sesungguhnya perpecahan dan permusushan yang terjadi ini, akan memberi peluang kepada musuh-musuh kita diluar sana untuk mengadu domba sesama kita. Dan bukankah ini adalah cara ampuh dari para penjajah masa silam untuk menaklukan nusantara ini? dan akankah hal tersebut akan terulangi oleh kita kembali?

Jawaban nya tentu kembali kepada kita masing-masing. Mari kita resapi kembali semboyaan bangsa kita, mari kita dengungan kembali di tengah-tengah gentingnya situasi ini. Berharap kita yang berpeluang terpecah ini bersatu kembali dalam bingkai persatuan dan kesatuan yang rukun, toleransi dan saling menghormati.

 Denda Berlipat *5 angsuran. Patutkah??? Selamat malam pembaca semua. Ceritanya malam ini mencoba memaksakan kembali diri untuk menulis ap...