Selasa, 19 Juni 2018
Air Yang Mengalir
Membagikan cerita tentang profil salah satu Tokoh Muslim indonesia yaitu Prof Dr Qomarudin Hidayat, beliau merupkan seorang ex-rektor di salah satu kampus Islam yaitu UIN Syarif Hidayatullah.
Terlepas dari sebagian pendapat miring tentang beliau, saya mencoba mengambil sisi baik dari perjalanan hidup beliau yang bisa kita jadikan bahan pelajaran.
Dari cerita singkat tentang hidup beliau yang saya baca melalui wikipedia (saya sudah memmbaca beberapa tahun yang silam dan saudara mungkin bisa baca lagi) dikisahkan bahwa beliau sedari kecil telah di tinggal oleh ibunya dan diasuh oleh neneknya yang menjadi sumber inspirasi beliau dalam menjalani hidup. Disamping asuhan nenek, beliau juga diasuh dibawah didikan KH Hamam Ja'far, seorang tokoh agama yang mengajarkan beliau ilimu agama, hikmah dan kebijaksanaan di pesantren.
Ingatan tajam saya dari kisah Prof Qomarudin adalah pesan KH Hamam kepada beliau (sampai saat ini pun pesan yai Hamam masih terekam kuat dalam benak saya). Pesan yai Hamam yaitu
"Hidup itu harus seperti air, jika ia mengalir maka ia akan bersih dan jika ia mengenang maka akan kotor"
Saya sempat memposting pesan Yai Hamam di FB beberpa tahun silam, dan mendapat tanggapan dari guru saya (buya Zulhamdi), beliau mengatakan bahwa pesan tersebut merupakan nasehat dari Imam Asy-Syafi'i.
Pesan tersebut sangatlah pendek, namun penuh makna bagi saya pribadi bahwa kita harus meluruskan pandangan ke depan untuk menghadapi masa depan. Berbagai kegagalan yang kita hadapi dalam merangkai masa depan adalah ujian dan rintangan yang harus dihadapi dengan penuh semangat dan pantang menyerah, karena tiada mungkin orang hidup dan orang yang suskes tanpa menhgadapi rintangan.
Yang menjadi permsalahan bagi saya atau mungkin sebagian kita adalah tatkala dihadapi satu rintagan saja lalu gagal mengahadapinya, semerta-merta jiwa langsung terhentak dan takut untuk mengahadapi rintangan yang lain, dan pada akhirnya kehilangan semangat untuk melanjutkan perjuangan.
Kalau kita mengulas balik kisah perjuangan nabi dan para sahabat untuk menyebarkan islam, tidakkah kita melihat bagaimana nabi tatkala berdakwah ke Thaif mengajak penduduknya memeluk islam. Tapi apa yang terjadi? Bukanlah perjuangan beliau tersebut mendapat penolakan yang keji dari penduduknya? Namun apakah hal tersebut menyulutkan jiwa nabi untuk berdakwah? tentunya tidak.
Nabi mendo'akan mereka supaya dari tulang sulbi mereka lahirlah para generasi yang memeluk islam. Nabi tetap melanjutkan estapet dakwah hingga pada akhirnya Allah mempermudah dakwah beliau melalui masuk Islamnya penduduk Yastrib.
Kita melihat kembali bagaimana kisah Thomas Alva Edison, yang selalu gagal menciptkan lampu hingga pada akhirya di percobaab yang ke-999 akhirnya beliau dapat menciptkan lampu.
Masih banyak kisah-kisah para pejuang masa depan yang kita jadikan pelajaran.
Semoga pesan Yai haman sebelumnya bahwa kita harus bagaikan air yamg mengalir dalam artian tetap melanjurkan perjuangan kita masing-masing dalam mengarungi kehidupan dan menggapai masa depan. Jangan menggenang yaitu jangan hanya terfokus pada kegagalan yang telah berlalu dan meratapinya sehingga timbullah perasaan khawatir untuk mencoba tantangan baru kembali. Tapi harus tetap mengalir sampai ke lautan yaitu tetap terus berusaha-usaha dan usaha hingga Allah memberikan pertolongan Nya untuk kita menggapai Apa yang kita inginkan.
Selamat Berjuang.
(Sungai Rumbai 20 Juni 2018)
Senin, 18 Juni 2018
Terombang Ambing
Malam ini baca-baca berita di internet (TribunNews) ada satu topik yang sangat menarik bagi diri saya pribadi. Berita tersebut bisa saudara baca di link http://www.tribunnews.com/internasional/2018/06/18/merkel-punya-dua-pekan-buat-selamatkan-pemerintahan-jerman
Mengulas sedikit berita tersebut menceritakan tentang pergolakan yang terjadi ditubuh Pemerintahan Jerman mengenai nasib para imigran korban dari perang yang ada di Timur Tengah. Kesimpulan yang dapat saya tarik dari perselisihan yang terjadi adalah bahwa mayoritas Pejabat Pemerintahan Jerman menolak untuk menerima para imigran masuk ke negara mereka. Bahkan ada seruan untuk mengusir para imigran yang telah di tampung kel luar dari Jerman.
Melihat dan mendengarkan kebijakan tersebut tentunya ada perasaan sedih, sedih tersebut muncul karena yang mengalami nya adalah saudara saya dan saudara kita sesama muslim yang sedang di timpa perang tak berkesudahan.
Sedari awal dari beberapa berita internasional tentang imigrasi para korban perang yang saya baca, dari sekian banyak negara Uni Eropa (selain Turki) saya sangat mengapresiasi dan berdecak kagum pada Jerman yang mau dijadikan sebagai negara kunjungan para imigran.
Decak kagum pada jerman tentu sangat saya hargai tatkala banyak juga diantara negara-negara Uni Eropa yang menolak para imigran seperti Perancis, Italia, Polandia, Hungaria dll. Mereka semua menolak mentah-mentah para imigran.
Melihat gelombang besar-besaran imigran Muslim ke negara Eropa saya mengingat akan Hadist nabi yang bercerita tentang kaum Muslimin bagaikan buih di lautan.
Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).
Tak bisa melihat dan membanyangkan nasib kaum Muslimin yang terkatung-terkatung di negara orang lain tak ada kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kualitas hidup yang baik. Semoga musibah yang dihadapi oleh saudara kita tersebut cepat berakhir dan kembali pulih seperti sediakalanya.
Tentunya melihat fenomena yang dialami oleh mereka. Terbesit dari pikiran ini untuk saatnya kaum muslimin harus bersatu dibawah satu komando kepemimpinan. Karena diantara faktor penyebab ditimpanya musibah adalah ketidak adannya persatuan dan kesatuan di tubuh kaum muslimin sendiri.
Kita lihat sekarang semua kaum muslimin terbecah belah menjadi beberapa golongan, pemerintahan dan kekuasaan. Perpecahan tersebut tentunya menjadi peluang bagi musuh untuk mengadu domba dan mencabik-cabik kaum Muslimin sendiri.
Dengan terwujudnya satu kepemimpinan dan satu visi bersama semoga Allah mencurahkan kembali kedamaian dan kesejahteraan bagi Kaum Muslimin.
(Sungai Rumbai/ 18 Juni 2018)
Mengulas sedikit berita tersebut menceritakan tentang pergolakan yang terjadi ditubuh Pemerintahan Jerman mengenai nasib para imigran korban dari perang yang ada di Timur Tengah. Kesimpulan yang dapat saya tarik dari perselisihan yang terjadi adalah bahwa mayoritas Pejabat Pemerintahan Jerman menolak untuk menerima para imigran masuk ke negara mereka. Bahkan ada seruan untuk mengusir para imigran yang telah di tampung kel luar dari Jerman.
Melihat dan mendengarkan kebijakan tersebut tentunya ada perasaan sedih, sedih tersebut muncul karena yang mengalami nya adalah saudara saya dan saudara kita sesama muslim yang sedang di timpa perang tak berkesudahan.
Sedari awal dari beberapa berita internasional tentang imigrasi para korban perang yang saya baca, dari sekian banyak negara Uni Eropa (selain Turki) saya sangat mengapresiasi dan berdecak kagum pada Jerman yang mau dijadikan sebagai negara kunjungan para imigran.
Decak kagum pada jerman tentu sangat saya hargai tatkala banyak juga diantara negara-negara Uni Eropa yang menolak para imigran seperti Perancis, Italia, Polandia, Hungaria dll. Mereka semua menolak mentah-mentah para imigran.
Melihat gelombang besar-besaran imigran Muslim ke negara Eropa saya mengingat akan Hadist nabi yang bercerita tentang kaum Muslimin bagaikan buih di lautan.
Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).
Tak bisa melihat dan membanyangkan nasib kaum Muslimin yang terkatung-terkatung di negara orang lain tak ada kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kualitas hidup yang baik. Semoga musibah yang dihadapi oleh saudara kita tersebut cepat berakhir dan kembali pulih seperti sediakalanya.
Tentunya melihat fenomena yang dialami oleh mereka. Terbesit dari pikiran ini untuk saatnya kaum muslimin harus bersatu dibawah satu komando kepemimpinan. Karena diantara faktor penyebab ditimpanya musibah adalah ketidak adannya persatuan dan kesatuan di tubuh kaum muslimin sendiri.
Kita lihat sekarang semua kaum muslimin terbecah belah menjadi beberapa golongan, pemerintahan dan kekuasaan. Perpecahan tersebut tentunya menjadi peluang bagi musuh untuk mengadu domba dan mencabik-cabik kaum Muslimin sendiri.
Dengan terwujudnya satu kepemimpinan dan satu visi bersama semoga Allah mencurahkan kembali kedamaian dan kesejahteraan bagi Kaum Muslimin.
(Sungai Rumbai/ 18 Juni 2018)
Minggu, 17 Juni 2018
Amal Yang Kecil
Jangan meremehkan amal baik sekecil apapun, karena kita tidak tahu amal kecil tersebutlah yang akan menjadi wasilah kita ke Sorga nya Allah.
Saya teringat akan kisah hadist yang masyhur didengar dari para da'i bahwa suatu hari ketika para sahabat berkumpul di rumah Rasulullah, tiba-tiba Rasulullah mengatakan "Calon penghuni surga akan datang"
Seketika mendengarkan perkataan Rasulullah tersebut, para sahabat terkejut dan tentunya penasaran dengan orang yang di katakan oleh Rasulullah.
Siapa yang tak ingin masuk surga? tentunya semua para sahabat dan kita semua generasi terakhir ini sangat mengaharapkannya, apalagi dijanjikan oleh Rasulullah sendiri. Oleh karena itu mari kita selidiki apa sih amal yang dilakukan calon penghuni tersebut sehingga dia memjadi calon penghuni surga?
Untuk mengetahui jawabannya, maka salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah meminta izin kepada sahabat tersebut untuk menginap di rumahnya.
Sudah tiga hari Abdullah menginap di rumah sahabat penghuni surga, tapi tak ada satupun amal ibadah spesial dari dirinya, lantas amal apa yang menjadikannya disabdakan oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga?
Tak lain tak bukan amalnya hanya memaafkan kesalahan yang telah diperbuat orang kepadanya.
Perselisihan antara kita dengan saudara, atau dengan teman, atau dengan kerabat adalah hal yang wajar karena mungkin berbeda pemahaman, atau berselisih pendapat atau mugkin tak senang dengan kelakuan orang terhadap diri kita.
Tapi bukankah jiwa pemaaf yaitu orang yang meminta maaf terlebih dahulu lebih utama dari orang yang kedua, walau itu bagi sebagian kita termasuk saya sendiri berat untuk dilakukan.
Tapi semoga kita bisa saling memafkan satu sama lain dan menghilangkan benih-benih kebencian diantara kita.
Maafkan saya kalau ada salah.
(Sungai Rumbai 18 juni 2018)
Saya teringat akan kisah hadist yang masyhur didengar dari para da'i bahwa suatu hari ketika para sahabat berkumpul di rumah Rasulullah, tiba-tiba Rasulullah mengatakan "Calon penghuni surga akan datang"
Seketika mendengarkan perkataan Rasulullah tersebut, para sahabat terkejut dan tentunya penasaran dengan orang yang di katakan oleh Rasulullah.
Siapa yang tak ingin masuk surga? tentunya semua para sahabat dan kita semua generasi terakhir ini sangat mengaharapkannya, apalagi dijanjikan oleh Rasulullah sendiri. Oleh karena itu mari kita selidiki apa sih amal yang dilakukan calon penghuni tersebut sehingga dia memjadi calon penghuni surga?
Untuk mengetahui jawabannya, maka salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah meminta izin kepada sahabat tersebut untuk menginap di rumahnya.
Sudah tiga hari Abdullah menginap di rumah sahabat penghuni surga, tapi tak ada satupun amal ibadah spesial dari dirinya, lantas amal apa yang menjadikannya disabdakan oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga?
Tak lain tak bukan amalnya hanya memaafkan kesalahan yang telah diperbuat orang kepadanya.
Perselisihan antara kita dengan saudara, atau dengan teman, atau dengan kerabat adalah hal yang wajar karena mungkin berbeda pemahaman, atau berselisih pendapat atau mugkin tak senang dengan kelakuan orang terhadap diri kita.
Tapi bukankah jiwa pemaaf yaitu orang yang meminta maaf terlebih dahulu lebih utama dari orang yang kedua, walau itu bagi sebagian kita termasuk saya sendiri berat untuk dilakukan.
Tapi semoga kita bisa saling memafkan satu sama lain dan menghilangkan benih-benih kebencian diantara kita.
Maafkan saya kalau ada salah.
(Sungai Rumbai 18 juni 2018)
Sabtu, 16 Juni 2018
Cengkraman Asing
Ntah mengapa pagi hari ini terbesit di pikiran tentang jiwa nasionalis, ujung-ujungnya saya mengingat salah satu nama ex-perdana menteri Iran (kala itu iran masih berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh Syah Rizal Pahlevi) yaitu Mohammad Shadiq, bagi saya beliau lebih dari sekedar tokoh nasionalis di negaranya yang tak hanya manis dimulut saja seperti kebanyakan orang-orang di negeri ini, hanya bisa berkata "saya Nasionalis lo" "saya Pancasila" " saya Indonesia"
Omong kosong semua perkataan tersebut bagi saya, Berkata "Saya Pancasila" tapi melukai sendiri semboyaan dibawahnya. bla, bla,,
Kembali lagi ke cerita Muhammad Shadiq. Kenasionalismean Shadiq terlihat ketika beliau mengeluarkan kebijakan untuk menasionalisasikan seluruh aset pertambangan minyak dan gas alam yang kala itu dikuasai oleh Asing.
Kita perlu ketahui, bahwa Iran dimasa rezim Syah Rizal Pahlevi sangat memiliki ketergantungan akut dengan cengkraman asing, alhasil kemiskinan sangat merajalela di Iran tatkala itu. Disamping ketegantungan yang kuat akan asing, Syah sendiri merupakan seorang pemimpin negara yang bermental zalim kepada rakyatnya, memperkaya diri sendiri, dan penuh dengan kehidupan glamor. Faktor ini lah yang menjadi faktor meletusnya revolusi Iran kelak yang dipimpin oleh Ayatullah Khomenei.
Niat baik shadeq untuk menjalankan kebijakannya untuk menasionalisasikan aset negara mendapat tantangan dari pihak asing dan tentunya juga dari Syah. Dan itu merupakan cobaan tersendiri yang harus di hadapi oleh jiwa-jiwa yang konsisten akan prinsipnya. Sehingga secara rela shadiq harus di gulingkan dari jabatan nya sebagai perdana menteri dengan penuh konspirasi yang busuk dari pihak asing dan Syah sendiri.
Saya merenungkan, sepertinya apa yang terjadi atau nasib yang dialami oleh shadiq hampir sama degan yang dialami oleh sosok penyambung lidah rakyat yaitu bung karno. Bung Karno memliliki prinsip tak mau kekayaan negara kita di kelola oleh asing, tapi dikelola oleh putra bangsa sendiri. Maka dari pada itu lah Bung Karno mengirim para Putra terbaik bangsa saat itu untuk menuntut ilmu ke luar negeri kala itu.
Tatkala Bung Karno lengser digantikan oleh jendral. Maka dimulailah babak cengkraman kuku asing menancapkan kukunya nan tajam di Indonesia. Dan sampai saat ini ketergantungan indonesia pada Asing masih sangat kuat dan sulit untuk di lepaskan.
Bersambung....
Jumat, 15 Juni 2018
Anak Benua India
Ketika dibawah jajahan bangsa inggris negara tersebut berada pada satu kesatuan wilayah yang dinamai dengan India. Namun berselangnya waktu terpecahlah menjadi dua wilayah yaitu India dan Pakistan.
Perpecahan antara india dan pakistan dilatar belakangi oleh agama, India yang berpaham Hindu dan Pakistan yang berpaham Islam. Dan tahukan saudara semua, sampai saat ini dua negara tersebut tak kunjung berdamai satu sama lain. Saling menebar kebencian, permusuhan dan perang sesama mereka.
Tak berhenti disitu saja, setelah pecahnya India dan Pakistan. Perpecahan terjadi kembali antara Pakistan dan Bangladesh karena faktor perbedaan suku semata. Pakistan yang dihuni oleh suku Pastun, Punjab, dll, sedangkan bangladesh dihuni oleh suku Bengali.
Begitu mirisnya melihat perpecahan yang terjadi pada 3 negara tersebut. Karena faktor perbedaan agama dan suku mereka terpecah. Tidak kah kita pahami bersama perbedaan diantara kita baik itu dari segi agama, suku, bahasa dll, adalah anugrah yang mestinya kita syukuri bersama.
Apalah rasanya bila hidup ini hanya warna putih saja yang kita lihat, tentu mata akan bosan ujungnya. Apalah rasanya hanya rasa manis yang bisa dikecap oleh lidah kita tentunya rasa hambar yang kita rasakan.
Kita berbeda tentu disana ada peluang untuk saling berselisih, tapi perselisihan tentunya adalah ujian untuk mendewasakan diri dan pola pikir agar bisa menerima perbedaan dan ragam tersebut. Tidak perpecahan yang kita harapkan.
Semoga bangsa kita ini yang keberagaman nya melebihi 3 negara tersebut, dengan beragam bahasa, suku dan agama, tidak tercerai berai satu sama lain.
Save Indonesia!!
Menciderai Bhineka Tunggal Ika
Beberapa bulan kedepan rakyat Indonesia akan mengadakan perhelatan pesta demokrasi yang diawali dengan pemilihan anggota legislatif, pejabat pemimpin daerah lalu diakhiri dengan pemilihan presiden.
Seperti nya politik ditahun ini diperkirakan sangat panas, masing-masing dari para kubu pendukung tampak saling serang-menyerang tak berkesudahan, sehingga sangat disayangkan persatuan dan kesatuan yang seharusnya diharapkan dan di pupuk bersama sulit untuk diwujudkan.
Tentunya perseteruan ini secara tak sengajai mencederai semboyaan keberagaman kita bangsa Indonesia, "Bhineka Tunggal Ika" (berbeda-beda tapi tetap satu jua)
Sepertinya keberagaman kita sedang di uji oleh Tuhan, apakah kita tetap konsisten menerapkan dan menjalankan semboyaan yang telah kita sepakati bersama tersebut atau mungkin menggapnya hanya sebatas formalitas saja yang terpajang bagai hiasan tak ada artinya.
Kita semua tentunya berharap perpecahan yang terjadi diantara kita saat ini tentunya tidak diingin berlarut-larut tanpa kesudahan, sehingga membuat kita saling membenci dan mencurigai satu sama lain. Tak ada rasa ketentraman, tak ada rasa saling menghormati dan tak ada rasa saling bertoleransi diantara kita.
Tanpa kita sadari sesungguhnya perpecahan dan permusushan yang terjadi ini, akan memberi peluang kepada musuh-musuh kita diluar sana untuk mengadu domba sesama kita. Dan bukankah ini adalah cara ampuh dari para penjajah masa silam untuk menaklukan nusantara ini? dan akankah hal tersebut akan terulangi oleh kita kembali?
Jawaban nya tentu kembali kepada kita masing-masing. Mari kita resapi kembali semboyaan bangsa kita, mari kita dengungan kembali di tengah-tengah gentingnya situasi ini. Berharap kita yang berpeluang terpecah ini bersatu kembali dalam bingkai persatuan dan kesatuan yang rukun, toleransi dan saling menghormati.
Seperti nya politik ditahun ini diperkirakan sangat panas, masing-masing dari para kubu pendukung tampak saling serang-menyerang tak berkesudahan, sehingga sangat disayangkan persatuan dan kesatuan yang seharusnya diharapkan dan di pupuk bersama sulit untuk diwujudkan.
Tentunya perseteruan ini secara tak sengajai mencederai semboyaan keberagaman kita bangsa Indonesia, "Bhineka Tunggal Ika" (berbeda-beda tapi tetap satu jua)
Sepertinya keberagaman kita sedang di uji oleh Tuhan, apakah kita tetap konsisten menerapkan dan menjalankan semboyaan yang telah kita sepakati bersama tersebut atau mungkin menggapnya hanya sebatas formalitas saja yang terpajang bagai hiasan tak ada artinya.
Kita semua tentunya berharap perpecahan yang terjadi diantara kita saat ini tentunya tidak diingin berlarut-larut tanpa kesudahan, sehingga membuat kita saling membenci dan mencurigai satu sama lain. Tak ada rasa ketentraman, tak ada rasa saling menghormati dan tak ada rasa saling bertoleransi diantara kita.
Tanpa kita sadari sesungguhnya perpecahan dan permusushan yang terjadi ini, akan memberi peluang kepada musuh-musuh kita diluar sana untuk mengadu domba sesama kita. Dan bukankah ini adalah cara ampuh dari para penjajah masa silam untuk menaklukan nusantara ini? dan akankah hal tersebut akan terulangi oleh kita kembali?
Jawaban nya tentu kembali kepada kita masing-masing. Mari kita resapi kembali semboyaan bangsa kita, mari kita dengungan kembali di tengah-tengah gentingnya situasi ini. Berharap kita yang berpeluang terpecah ini bersatu kembali dalam bingkai persatuan dan kesatuan yang rukun, toleransi dan saling menghormati.
Langganan:
Postingan (Atom)
Denda Berlipat *5 angsuran. Patutkah??? Selamat malam pembaca semua. Ceritanya malam ini mencoba memaksakan kembali diri untuk menulis ap...
-
Hari-hari manusia memang tak pernah lepas dari setumpuk rutinitas yang dijalankan. Hampir lebih kurang 24 jam dalam sehari manusia disbuka...




