Sabtu, 16 Juni 2018

Cengkraman Asing

Ntah mengapa pagi hari ini terbesit di pikiran tentang jiwa nasionalis, ujung-ujungnya saya mengingat salah satu nama ex-perdana menteri Iran (kala itu iran masih berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh Syah Rizal Pahlevi) yaitu Mohammad Shadiq, bagi saya beliau lebih dari sekedar tokoh nasionalis di negaranya yang tak hanya manis dimulut saja seperti kebanyakan orang-orang di negeri ini, hanya bisa berkata "saya Nasionalis lo" "saya Pancasila" " saya Indonesia"

Omong kosong semua perkataan tersebut bagi saya, Berkata "Saya Pancasila" tapi melukai sendiri semboyaan dibawahnya. bla, bla,,

Kembali lagi ke cerita Muhammad Shadiq. Kenasionalismean Shadiq terlihat ketika beliau mengeluarkan kebijakan untuk menasionalisasikan seluruh aset pertambangan minyak dan gas alam yang kala itu dikuasai oleh Asing.

Kita perlu ketahui, bahwa Iran dimasa rezim Syah Rizal Pahlevi sangat memiliki ketergantungan akut dengan cengkraman asing, alhasil kemiskinan sangat merajalela di Iran tatkala itu. Disamping ketegantungan yang kuat akan asing, Syah sendiri merupakan seorang pemimpin negara yang bermental zalim kepada rakyatnya, memperkaya diri sendiri, dan penuh dengan kehidupan glamor. Faktor ini lah yang menjadi faktor meletusnya revolusi Iran kelak yang dipimpin oleh Ayatullah Khomenei.

Niat baik shadeq untuk menjalankan kebijakannya untuk menasionalisasikan aset negara mendapat tantangan dari pihak asing dan tentunya juga dari Syah. Dan itu merupakan cobaan tersendiri yang harus di hadapi oleh jiwa-jiwa yang konsisten akan prinsipnya. Sehingga secara rela shadiq harus di gulingkan dari jabatan nya sebagai perdana menteri dengan penuh konspirasi yang busuk dari pihak asing dan Syah sendiri.

Saya merenungkan, sepertinya apa yang terjadi atau nasib yang dialami oleh shadiq hampir sama degan yang dialami oleh sosok penyambung lidah rakyat yaitu bung karno. Bung Karno memliliki prinsip tak mau kekayaan negara kita di kelola oleh asing, tapi dikelola oleh putra bangsa sendiri. Maka dari pada itu lah Bung Karno mengirim para Putra terbaik bangsa saat itu untuk menuntut ilmu ke luar negeri kala itu.

Tatkala Bung Karno lengser digantikan oleh jendral. Maka  dimulailah babak cengkraman kuku asing menancapkan kukunya nan tajam di Indonesia. Dan sampai saat ini ketergantungan indonesia pada Asing masih sangat kuat dan sulit untuk di lepaskan.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Denda Berlipat *5 angsuran. Patutkah??? Selamat malam pembaca semua. Ceritanya malam ini mencoba memaksakan kembali diri untuk menulis ap...