Senin, 18 Juni 2018

Terombang Ambing

Malam ini baca-baca berita di internet (TribunNews) ada satu topik yang sangat menarik bagi diri saya pribadi. Berita tersebut bisa saudara baca di  link http://www.tribunnews.com/internasional/2018/06/18/merkel-punya-dua-pekan-buat-selamatkan-pemerintahan-jerman

Mengulas sedikit berita tersebut menceritakan tentang pergolakan yang terjadi ditubuh Pemerintahan Jerman mengenai nasib para imigran korban dari perang yang ada di Timur Tengah. Kesimpulan yang dapat saya tarik dari perselisihan yang terjadi adalah bahwa mayoritas Pejabat Pemerintahan Jerman menolak untuk menerima para imigran masuk ke negara mereka. Bahkan ada seruan untuk mengusir para imigran yang telah di tampung kel luar dari Jerman.

Melihat dan mendengarkan kebijakan tersebut tentunya ada perasaan sedih, sedih tersebut muncul karena yang mengalami nya adalah saudara saya dan saudara kita sesama muslim yang sedang di timpa perang tak berkesudahan.

Sedari awal dari beberapa berita internasional tentang imigrasi para korban perang yang saya baca, dari sekian banyak negara Uni Eropa (selain Turki) saya sangat mengapresiasi dan berdecak kagum pada Jerman yang mau dijadikan sebagai negara kunjungan para imigran.

Decak kagum pada jerman tentu sangat saya hargai tatkala banyak juga diantara negara-negara Uni Eropa yang menolak para imigran seperti Perancis, Italia, Polandia, Hungaria dll. Mereka semua menolak mentah-mentah para imigran.

Melihat gelombang besar-besaran imigran Muslim ke negara Eropa saya mengingat akan Hadist nabi yang bercerita tentang kaum Muslimin bagaikan buih di lautan.

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Tak bisa melihat dan membanyangkan nasib kaum Muslimin yang terkatung-terkatung di negara orang lain tak ada kenyamanan, ketenangan, kedamaian dan kualitas hidup yang baik. Semoga musibah yang dihadapi oleh saudara kita tersebut cepat berakhir dan kembali pulih seperti sediakalanya.

Tentunya melihat fenomena yang dialami oleh mereka. Terbesit dari pikiran ini untuk saatnya kaum muslimin harus bersatu dibawah satu komando kepemimpinan. Karena diantara faktor penyebab ditimpanya musibah adalah ketidak adannya persatuan dan kesatuan di tubuh kaum muslimin sendiri.

Kita lihat sekarang semua kaum muslimin terbecah belah menjadi beberapa golongan, pemerintahan dan kekuasaan. Perpecahan tersebut tentunya menjadi peluang bagi musuh untuk mengadu domba dan mencabik-cabik kaum Muslimin sendiri.

Dengan terwujudnya satu kepemimpinan dan satu visi bersama semoga Allah mencurahkan kembali kedamaian dan kesejahteraan bagi Kaum Muslimin.

(Sungai Rumbai/ 18 Juni 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Denda Berlipat *5 angsuran. Patutkah??? Selamat malam pembaca semua. Ceritanya malam ini mencoba memaksakan kembali diri untuk menulis ap...